Membangun Karakter Dan Semakin Cinta Indonesia Lewat Workshop Kebangsaan Yang Menyenangkan

Keceriaan terpancar dari wajah siswa-siswi SMP Santa Maria yang memadati ruang aula utama Citra Alam Riverside, Cilember, Bogor. Meski ditengah dinginnya hawa pegunungan yang sedang diguyur hujan, mereka terlihat antusias dengan sebuah permainan yang dibawakan seorang instruktur. Sang instruktur meminta para siswa untuk memejamkan mata selama beberapa menit sambil membayangkan rasa buah jeruk. 

Setelah waktu habis, beberapa siswa diminta menyebutkan rasa apa saja yang sudah mereka bayangkan. Kebanyakan siswa menjawab rasa asam yang menurut instruktur artinya galau atau gelisah hingga mereka pun bersorak makin meramaikan suasana. Permainan tersebut menjadi pengantar dimulainya kegiatan workshop kebangsaan yang merupakan bagian dari kegiatan camping pramuka yang digelar selama 2 hari 1 malam.  Kegiatan khusus bagi siswa tingkat SMP keatas ini digelar untuk menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air, melalui pengetahuan tentang terbentuknya Indonesia, sejarah perjuangan bangsa melawan penjajah, hingga diproklamirkannya kemerdekaan.

Siswa Home Schooling Tunas Bangsa mempersembahkan lagu Tanah Airku


Workshop kebangsaan yang juga disebut sebagai Sosialisasi Nasionalisme Indonesia (SNI) ini dibuka dengan lantunan lagu Indonesia Jaya dengan diiringi musik angklung, oleh siswa siswi Home Schooling Tunas Bangsa.  Disela pemaparan mengenai Nasionalisme Indonesia melalui tayangan di layar, lagu Tanah Airku dan Berkibarlah Benderaku dinyanyikan bersama.

Selanjutnya para siswa diajak untuk seolah-olah menerobos ruang waktu yang berjalan mundur ke masa imperialisme kuno dan modern. Melalui pembahasan oleh pemateri dalam beberapa tayangan dokumenter dan foto, siswa dapat memperoleh pengetahuan mengenai masa penjajahan di jaman kerajaan yang masih menggunakan senjata tradisional. Sebuah proses panjang untuk menuju perdamaian hingga tercetuslah Sumpah Pemuda sebagai  ikrar untuk mempersatukan semua suku yang semula tercerai berai. Pada bagian ini, para siswa diminta berdiri dan membacakan bersama-sama ikrar Sumpah Pemuda secara khidmat, untuk mengenang 28 Oktober 1928 yang menjadi awal terbentuknya Indonesia. Saat itulah untuk pertama kalinya bangsa Indonesia mengikat diri untuk satu bangsa, satu bahasa dan satu tumpah darah.