Batik, Bukan Sekadar Identitas Bangsa

Diperbarui: Jan 28

Secara umum batik dikenal sebagai warisan budaya yang turun menurun kemudian menjadi karya seni bangsa. Batik bukan sekadar fashion yang diminati banyak orang bahkan atau sebagai identitas Negara saja tapi terdapat banyak pembelajaran yang terdapat pada motif atau corak di setiap kain batik. Kain batik sangat di gandrungi bangsa-bangsa lain di berbagai belahan dunia. Sejak Kerajaan Mataram Kuno, bahkan sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara.

Melihat eksistensi kain batik yang semakin hari semakin diminati banyak orang tentunya kita juga perlu mengetahui semua hal yang berkaitan dengan batik mulai dari corak, motif, dan filosofi sebab kain batik ternyata bukan sekadar identitas bangsa berikut penjelasannya.

Batik sebagai pendidik


warisan budaya Indonesia

Bicara tentang batik tentunya bukan hal baru lagi, karena batik sudah disoroti dari dimensi seni dan sejarahnya. Batik mengajarkan banyak hal termasuk mengajarkan kita tentang pendidikan dan banyak hal lainnya. Seperti yang kita tahu bahwa sehelai kain batik mempunyai corak atau motif yang bukan hanya seni tapi memiliki filosofi. Dalam setiap corak atau motif terdapat makna yang tersirat di dalamnya dan ada campur tangan dari sejarah.

Batik adalah tentang keselarasan. Keselarasan warna, motif dan pola yang beradu dengan apik. Batik adalah tentang konsistensi. Konsistensi, ketelitian, dan keuletan dalam menghasilkan karya terbaik. Batik mengajarkan pentingnya mengedepankan kualitas bukan sekadar eksistensi yang diminati banyak orang, bahkan mengajarkan tentang kedigdayaan dan keunggulan.

Batik dan pembangunan karakter

Sejak ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya untuk dunia pada 2 Oktober 2009, batik bukan sekadar fashion atau identitas dari suatu negara. Karena batik adalah sumber daya luar biasa yang dapat mempercepat proses pembangunan karakter yang bahan bakunya adalah nilai-nilai luhur dan output-nya adalah keunggulan dan martabat Bangsa. Hanya saja sampai saat ini batik masih kurang dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan dan pembangunan karakter khususnya pada generasi muda.