Manasik / Pelatihan Ibadah Haji

Diperbarui: Jan 28

LEARNING POINT MANASIK HAJI [WAWASAN]

Tema: Menemukan hujjah dalam haji – pondasi bagi ketakwaan

Untuk mencapai haji yang mabrur bukan saja dibutuhkan kemampuan untuk melaksanakan setiap tahapan prosesi ritual ibadah haji yang ada dengan sempurna; namun jauh lebih penting lagi dari itu adalah dibutuhkan kemampuan kita untuk memaknai secara mendalam setiap prosesi ritual yang kita jalani dalam ibadah haji tersebut. Karenanya menjadi sangat penting bagi kita untuk membekali diri dengan sebaik- baiknya agar ketika saatnya panggilan tersebut datang, kita dapat menunaikannya dengan sebaik mungkin dan menjadikan kita sebagai haji yang mabrur. Atau sekalipun kita belum mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan haji, setidaknya dengan kita telah memahami makna dan nilai yang terkadung di dalam ibadah haji ini kita dapat mengimplentasikannya di dalam kehidupan kita.

Sama seperti ibadah-ibadah lainnya seperti shalat, puasa dan zakat yang tujuannya adalah mencapai ketakwaan, demikian juga halnya dengan ibadah haji. Hanya saja kekhususan ibadah haji; ibadah akbar yang diwajibkan setidaknya sekali seumur hidup bagi orang yang mampu melakukannya ini, memiliki rangkaian prosesi ibadah yang kuat yang jika dilakukan dengan baik dan benar mempunyai impact PERMANENISASI KETAKWAAN kita. Yang dalam bahasa nusantara disebut mahardika atau jiwa yang merdeka. Karena itulah dalam sabdanya Rasulullah menyampaikan: “Sungguh haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga.” (HR Bukhari dan Muslim).

Rangkaian prosesi ibadah haji yang dimulai dari IHRAM (diharamkan) dan diakhiri dengan TAHALLUL (dihalalkan) adalah penggambaran sebuah proses metamorfosis spiritual. Perlu kita pahami bahwa sebenarnya dalam kontek spiritualitas apapun yang kita miliki dalam kehidupan duniawi ini menjadi haram adanya ketika disertakan nafsu kotor di dalamnya. Kekayaan yang disertai kebakhilan, ilmu yang disertai kekufuran atau jabatan yang disertai keangkuhan, itu semua menjadi kotor. Menjadi haram. Tentu setiap orang boleh menjadi kaya sekaya-kayanya, menjadi cerdas secerdas-cerdasnya dan menjadi tinggi setinggi- tingginya. Tapi semua itu harus disertai oleh ketakwaan.

Jiwa yang takwa adalah jiwa yang terpelihara. Jiwa yang telah terbebas dari segala belenggu nafsu yang merusak. Jiwa yang telah tertenam kuat kebenaran (hujjah) padanya sehingga tidak mudah jatuh ke dalam dosa dan kerusakan. Inilah jiwa yang mahardika itu. Jiwa yang merdeka. Jiwa yang demikian itulah yang membawa kita kepada keridhoan Allah. Yang membuat kita aman, damai, selamat dan sejahtera. Dan meski ibadah haji bukanlah satu-satunya jalan untuk mencapai ketakwaan tersebut, namun memahami rangkaian proses ibadah haji adalah penting untuk kita melihat pola; melihat formula untuk mencapai kualitas takwa yang sebaik-baiknya yang tersyiarkan dalam ibadah haji.

TAHAPAN PROSESI IBADAH HAJI

1. IHRAM

• Secara bahasa ihram berarti “diharamkan”. Yang secara harfiahnya, jamaah yang berihram diharamkan baginya: bersenggama, melakukan kejahatan, berselisih, memakai pakaian berjahit bagi laki-laki, memakai tutup kepala bagi laki-laki, memakai cadar bagi perumpuan, melangsungkan akad nikah, memotong kuku dan mencukur rambut, memakai wangi-wangian dan berburu.

فِي ِه آيَات بَيِنَات َمقَام إِب َراهِيمَ ۚ َو َمن دَخَلَه كَا َن آ ِمنًا ۚ َو ِ ِ عَلَى الن ا ِس ِحج البَي ِت َم ِن است َطَاعَ إِلَي ِه سَبِي ًل ۚ َو َمن

كَف َ َر فَإِ ن َ غَنِي عَ ِن الع َالَ ِمي َن

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya